Sahmadin Sinaga Anggota DPRD Kepri, Ketua Himpunan Masyrakat Simalungun Indonesia (HMSI) Kepri

HMSI KEPRI GELAR SEMINAR ADAT SIMALUNGUN DI BATAM
Maret 24, 2020
Seru Pesta Adat di Pernikahan Putri Calon Bupati Simalungun
Maret 24, 2020

Pengalaman menjadi perantauan di beberapa daerah membuat Sahmadin Sinaga belajar banyak hal. Ia sadar bahwa menjadi perantau tidak hanya cukup hanya dengan bertahan hidup, tetapi juga harus tetap mempertahankan identitas dan berdaya guna bagi sekelilingnya. Posisinya sebagai Ketua HMSI Kepri ia anggap peluang untuk merangkul sesama orang Simalungun di Kepri agar memiliki daya saing baik dalam dunia pekerjaan maupun pendidikan.

Saat ini Anda menetap di Batam, apakah sejak lahir memang sudah tinggal disana?
Jadi sebenarnya saya sudah keliling-keliling. Kalau orang tua dari Simalungun, saya lahir di Dairi, Sidikalang, tanah Pak-Pak itu. Cuma sekolah di medan, setelah tamat merantau ke Batam.

Merantau ke Batam, lalu mendapat jodoh orang Batam kah?
Bukan. Dapat jodoh orang Raya. Saya dari Dairi. Jadi dulu sudah hilang Simalungunnya. Menikah dengan orang Simalungun muncul lagi jiwa Simalungunnya. Kalau tidak pasti sudah hilang (tertawa).

Ouw.. jadi sudah berapa lama di Batam?
Di batam sudah 23 tahun.

Sebagai orang Simalungun yang tidak lahir di tanah Simalungun dan kemudian besar di perantauan. Bagaimana Anda memandang suku Simalungun?

Sebenarnya suku Simalungun itu ada sesuatu yang kita banggakan yang mungkin tidak dimiliki suku yang lain. Pertama suku Simalungunun itu sudah terbiasa dengan tantangan. Mungkin pengaruh alam dulu, di tanah Simalungun kan ada gunung, ada  lembah, ada darat, jadi sudah terbiasa dengan semua itu.

Kedua, sifat orang Simalungun itu biasanya terbuka dengan dunia luar. Nah itukan memperkaya pemikiran orang Simalungun itu sendiri. Dia mau bergaul dengan orang ini, dengan suku ini. Makanya dengan kelebihan itu, saat keluar pun bisa menyesuaikan diri.

Ya memang kalau kita nggak pintar itu juga bisa jadi kelemahan. Kelemahannya kita bisa menerima (budaya) punya semua orang luar, kalau kita nggak kuat ya identitas kita sendiri yang hilang. Tapi ya kelebihannya itu, satu keunggulan yang membuat kita bisa berhasil ataupun mengalami kemajuan di daerah lain. Banyak orang Simalungun yang merantau, walaupun tanah Simalungun itu tergolong kaya dibanding dengan daerah lain. Saya lama di Toba sana, di Samosir saya ada setahun disana waktu bekerja. Saya tau bagaimana kehidupan orang di Samosir sana, bagaimana kehidupan di Karo, Pak-Pak Dariri dan yang lainnya. Simalungun termasuk subur.

Sekarang tinggal di Batam, bagaimana komunitas orang Simalungun disana?

Komunitas orang Simalungun disana masih tergolong solid lah. Dan perkembangannya juga sangat cepat. Jadi dari segi gereja karena kebetulan saya orang Kristen, juga dari segi orang Simalungun yang muslim juga. Disana ada juga IKEIS (Ikatan Keluarga Islam Simalungun). Kebetulan saya ketua PMS (Partuha Maujana Simalungun) juga , kita setiap tahun mengadakan buka puasa bersama.

Dari segi yang kristiani misalnya. Itu dulu kita hanya 1 gereja di Batam. sekarang sudah ada 10 gereja di Kepri, 1 gereja rata-rata 500 lah kita bikin, sudah 5 ribu orang. Itu yang terdaftar. Ditambah yang di IKEIS ada 1500-2000. Jadi ada sekitar 7 ribu orang Simalungun disana. Itu yang masuk data kita. Lain lagi sama yang semi. Misalnya orang Simalungun ada yang nikah dengan orang jawa, atau Simalungun nikah sama Flores. Yang semi-semi begitu kadang muncul kadang menghilang. Tapi sejauh ini lumayan solid, ke depan kita ada rencana buat acara Pesta Rondang Bintang, semacam pesta budaya Simalungun.

Kalau generasi muda Simalungun disana bagaimana?

Nah jadi gini, ada memang kelemahan kita dari warga Simalungun. Banyak generasi muda Simalungun, dia tamat SMA merantau ke Batam. Nah akhirnya kan nanti kerja pun dia di dunia kerja, bagaimana lah kalau standart sekolahnya hanya tamatan SMA. Mohon maaf ini, kalau disini sebenarnya buruh pabrik. Disana karena dia dikelola perusahan-perusahaan luar, dianggap naik setingkat, padahal sama saja. Sama- sama buruh pabrik.

Selaku orang tua kita juga berusaha memberdayakan mereka disana. Kita selalu  melakukan pembinaan-pembinaan. Supaya di saat mereka bekerja, mereka juga mengutamakan pendidikan. Jadi sekarang pemuda-pemuda gereja kita , sembari bekerja, mereka juga sambil kuliah. Kebetulan saya juga dosen disana. Jadi pengalaman-pengalaman di dunia pendidikan juga saya sampaikan ke mereka. Di tempat saya mengajar itu, sudah ada 5 atau 7 orang yang jadi dosen. Kalau dosen kan S2, berarti secara pendidikan mereka sudah lumayan.

Berkaitan dengan HMSI, adakah program-program HMSI yang sejalan dengan pariwisata ataupun yang memajukan Simalungun?

Itu kan organisasi baru. Karena baru jadi butuh penyesuaian supaya bisa diterima oleh orang Simalungun itu sendiri. Kita harus melihat, kita kan di perantauan nih, tentu bukan daerah Simalungunnya yang kita majukan, berarti kan orangnya. Makanya kita harus buat pemetaan dulu.  Pemetaan maksudnya tentang warga Simalungunnya. Dari segi tingkat pendidikan, berapa sih orang Simalungun yang punya pendidikan misalnya S2, S1 dan di bawahnya itu. Kalau mayoritas masih di bawah berarti kan kita dorong mereka agar pendidikannya lebih tinggi.

Yang kedua dari segi pekerjaan. Misalnya tadi 7000 orang disana orang Simalungun, tapi semua helper, mau jadi apa. Berapa jadi pengusaha, berapa pegawai negeri, berapa misalnya manajemen menengah. Jadi kita data dulu. Dari pendataan itu kita tau, ini loh orang Simalungunnya. Dengan tau kita orang Simalungunnya begini, tentu kita tau apa yang akan kita lakukan ke mereka. Kalau langsung kita bikin misalnya pertandingan bola kaki, ya cuma bola kaki aja yang ada disana. Dengan pendataan itu taulah kita apa-apa yang mesti kita berikan. Apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Kita usahakan mindset orang Simalungun itu yang merantau itu jangan hanya jadi buruh kasar loh. Harus bisa memperkerjakan orang. Tapi kan membuat itu tidak segampang itu. Apalagi di sana ibu-ibu, udah biasa terima gajih. Disana kan perusahaan-perusahaan luar. Jadi waktu terima gajih itu merasa bangga, tapi dia nggak tanya suaminya kerja itu di level mana. Kalau dia level bawahan walaupun besar gajinya berartikan kita masih jauh tertinggal. Tapi kalau sudah di level menengah itu baru bagus. Jadi kebiasaan hanya menerima gajih itu juga mesti diubah.

Sekarang ini jadi muncul masalah. Jadi begini, waktu dia belum menikah, gaji 5 juta kan masih enak. ketika sudah menikah, ada anak, ada istri, sementara gaji tetap, itu kan jadi masalah. Jadi nggak berkembang sementara pengeluaran bertambah. Akhirnya jadi kendala, jadi masalah. Kita ciptakan dia jadi pengusaha, umur sudah berapa, sudah susah karena sudah terpola. Jadi hanya mengharapkan gaji dari perusahaan.

Oke, satu pertanyaan lagi. Bagaimana Anda melihat pariwisata di Simalungun?

Pertama, di Simalungun kelemahannyanya adalah kurangnya promosi tentang pariwisata yang ada di Simalungun. Yang kedua adalah akses ke lokasi objek wisata itu yang kurang. Pemerintah Simalungun jangan hanya terfokus pada APBD Simalungun. Walaupun dia di kabupaten kota dia harus bisa mengakses ke provinsi. Dari provinsi itu harus bisa diakses ke pusat. Dari pusat itu ada kok bisa langsung dia bantuan-bantuan tentang infrastruktur

Saya kira di pemerintahan Simalungun itu sepertinya yang kurang. Bagaimana dia menggali sumber yang ada di pusat supaya disalurkan ke kabupaten kota.

TELEPON